Keterbatasan menguasai bahasa Inggris, disadari Deden masih menjadi kendala dirinya. Untuk itu, ia pun masih menjadikan wisatawan lokal sebagai target prioritas dari usahanya. Meski tak jarang, ia pun sempat beberapa kali diminta untuk mengantar wisatawan mancanegara.
"Kebanyakan masih lokal (wisatawan), dari Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor. Kalau bule sih jarang, pernah juga diminta nghandle dulu bule puluhan orang pake kapal pesiar. Saya ajak temen untuk jadi penerjemah," kelakar Deden sambil tertawa.
*Pandemi Corona Membuat Omzet Menurun*
Munculnya wabah corona di Indonesia sempat membuat Taman Nasional Ujung Kulon pun ditutup sementara untuk kunjungan wisata. Hal itu pun sempat membuat Deden kalang kabut, bahkan ia pun harus rela berjualan masker demi dapat menyambung hidup keluarganya.
Baca Juga:Kembali Dibuka, Simak Imbauan Taman Nasional Ujung Kulon untuk Wisatawan
"Duh kemarin pas ditutup, total nggak ada pemasukan. Saya terpaksa jualan, apa aja, sampe jualan masker. Yang penting dapur bisa ngebul," terangnya.
Pasca ditutup sementara sejak maret 2020 lalu, Taman Nasional Ujung Kulon pun resmi dibuka pada 10 Agustus 2020 membuat para pelaku usaha wisata seperti Deden pun kembali tersenyum. Namun dengan penerapan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah pengunjung, diakuinya membuat omzetnya mengalami penurunan.
"Sekarang sejak corona, jumlah wisatawan berbeda jauh. Kalau sebelumnya biasa bawa lebih dari 100 orang dalam sebulan. Kini karena dibatasi paling diangka 70 sampe 80 orang. Rame itu biasa di Februari dan Maret, lebih rame kalau libur panjang. Dulu biasa 100 orang lebih saya bawa sekali jalan," jelasnya.
Kontributor : Sofyan Hadi
Baca Juga:Hari Ini, 10 Agustus, Taman Nasional Ujung Kulon Resmi Kembali Dibuka