SuaraBanten.id - Psikolog anak Dr. Rose Mini A.P M.Psi. menjelaskan alasan mengapa anak tidak perlu pandai membaca, menulis, dan berhitung saat masuk Sekolah Dasar atau SD.
Lebih penting dari hal-hal tersebut, kata Rose, anak harus lebih siap dengan tugas perkembangan diri.
"Gimana kalau anak masuk sekolah belum siap? Dia akan sulit beradaptasi, sulit memahami pelajaran karena kemampuan bahasanya juga kurang, sulit konsentrasi, dan merasa tidak nyaman di sekolah jadi demotivasi," papar psikolog yang akrab disapan Bunda Romi beberapa waktu lalu.
Bunda Romi menegaskan bahwa anak tidak bisa dipaksa untuk masuk SD jika memang secara tugas perkembangannya belum siap. Ia menuturkan, umumnya indikator kematangan anak masuk SD, yang juga ditetapkan Pemerintah, adalah usia minimal tujuh tahun.
Tetapi, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda.
Menurut Bunda Romi, kematangan perkembangan anak tergantung dari simulasi yang diberikan orangtua juga sekolah TK saat anak mengenyam usia dini. Simulasi cukup dilakukan dengan cara yang sederhana, salah satunya dengan mengajarkan anak berani bicara.
"Anak harus diajak bicara supaya berani ngomong. Ibunya sering nanya 'adek ceritain dong di sekolah ngapain aja'. Ya si anak akan bingung karena banyak yang dilakukannya. Orangtua harusnya lebih detail bertanya 'tadi waktu makan duduk dengan siapa', karena sifat kognitifnya anak masih kinkret. Jadi perlu menerangkan dengan sesuatu," paparnya.
Sebelum masuk SD, anak sebaiknya telah mengetahui angka dan bisa membedakan berbagai warna dasar. Selain itu anak juga mampu mandiri, atau tidak selalu bergantung dengan orangtuanya.
"Kalau mau tes anak coba buka baju bagian atas lalu suruh dia mengancingkan lagi. Itu melihat motorik halus dan kemandirian. Juga dapat teratur dengan rutinitas. Ini kesiapan sekolah. Kesemua aspek ini harus disimulasi," ujarnya
Baca Juga: Daftar Hari Nasional di Indonesia Terlengkap dari Januari hingga Desember
Bunda Romi mengingatkan, orangtua tidak perlu memaksa anak agar selalu mendapat peringkat teratas di sekolah. Terpenting dari sekolah adalah bagaimana anak paham dengan pelajaran dan merasa bahagia. "Kalau ranking belum tentu juga akan berhasil di masyarakat. Ternyata ada faktor lain yang menentukan," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 9 Pilihan HP Infinix RAM 8GB Kelas Entry Level Harga Rp1-3 Jutaan
- Kulkas Merek Apa yang Tidak Ada Bunga Es? Ini Pilihan dan Tips agar Tak Salah Beli
Pilihan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
-
Dikepung Asap Karhutla, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Pontianak
-
Santap Siang Bareng di Rusia, Prabowo Minta Maaf ke Putin Karena Hal Ini
-
Dua Bus Transjakarta Tubrukan di Pancoran, Benarkah Sopir Mengantuk karena Cuti Duka Ditolak?
-
Bikin Cemas! Pesawat Garuda Indonesia Pecah Ban Angkut 156 Penumpang
Terkini
-
Satu Kasus Berhasil Diungkap, Polisi Masih Buru Pelaku Curanmor Viral di Lebak
-
Wakil Wali Kota Tangsel Ungkap Hibah KONI Rp12 Miliar Bermasalah
-
Tragedi Pohon Tumbang Depan BIS Serang, Satu Pekerja Tewas Tertimpa Saat Pulang Tugas
-
Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi
-
Ditinggal Tidur Usai Nonton Piala Dunia, Pick Up Pengusaha Matrial Anyer Ditemukan di Pemalang