- MALIKA for Urban Studies menggelar diskusi terbuka mengenai ancaman perubahan fungsi serta pencemaran Sungai Cisadane di Tangsel pada Jumat, 6 November 2026.
- Pengamat Asnil Bambani menyatakan bahwa pencemaran limbah domestik dan industri di Cisadane berpotensi membahayakan kesehatan manusia melalui rantai makanan.
- Founder MALIKA Muhammad Ikbal mendesak audit tata ruang serta penindakan tegas terhadap pelanggaran lingkungan seperti tempat sampah ilegal dan pencemaran air.
Menurutnya, pencemaran juga dapat mengancam keanekaragaman hayati. Organisme air, termasuk ikan, berpotensi menyerap zat berbahaya yang kemudian dapat masuk ke tubuh manusia apabila dikonsumsi. Pencampuran sejumlah bahan kimia juga berpotensi menghasilkan senyawa berbahaya dan mengganggu ekosistem perairan.
Di luar persoalan limbah, Asnil menilai perlindungan kawasan di sepanjang sungai penting untuk menjaga fungsi ekologis DAS. Pembangunan yang menutup permukaan tanah dengan beton dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air sehingga meningkatkan limpasan ketika hujan.
Ia juga mengkritisi normalisasi sungai yang hanya berorientasi mempercepat aliran air menuju laut. Menurutnya, pengelolaan sungai harus mempertahankan fungsi kawasan sekitarnya agar air tetap dapat meresap ke dalam tanah.
"Air yang seharusnya bisa menjadi energi, kita buang langsung ke laut. Itu yang terjadi di Citarum," katanya.
Baca Juga:Pemprov Banten Siapkan 600 Siswa Masuk Barak TNI, Pengamat Pendidikan Kritik Program
Selain itu, Asnil menyoroti potensi perkembangan industri pusat data atau data center di Tangerang. Menurutnya, fasilitas pusat data membutuhkan pasokan air, terutama untuk sistem pendinginan.
Pertumbuhan industri tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air apabila tidak disertai perencanaan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat dan daya dukung lingkungan.
"Tangerang itu kedatangan investasi Rp3,1 triliun untuk membangun data center. Nah, data center ini adalah industri yang paling membutuhkan air. Dapat dari mana airnya? Kalau bukan dari air Cisadane?" ujarnya.
Asnil juga mencontohkan konflik antara industri pusat data dan masyarakat di sejumlah wilayah Amerika Serikat akibat tingginya kebutuhan air. Ia meminta pemerintah daerah memastikan sumber pasokan air industri sebelum memberikan ruang bagi ekspansi investasi.
Asnil mendorong pemulihan sungai dilakukan dengan memperhatikan karakteristik ekosistem masing-masing DAS, termasuk penggunaan vegetasi yang sesuai dengan lingkungan setempat serta perlindungan habitat dan ikan lokal.
Baca Juga:Kolaborasi Lintas Sektor: Pemkot Tangsel Gandeng Kampus dan Swasta Sukseskan Porprov Banten 2026
Untuk menjaga keberlanjutan Cisadane, ia meminta pemerintah dan masyarakat menerapkan pengelolaan berbasis penelitian, mulai dari pemantauan kualitas air, restorasi lingkungan, perlindungan habitat, hingga edukasi masyarakat bantaran sungai. Ia juga mengingatkan agar gerakan pelestarian tidak berhenti sebagai program seremonial atau bergantung pada anggaran proyek.
"Jangan sampai kemudian gerakan untuk menjaga Cisadane ini tidak berkelanjutan, tidak bergantung kepada proyek. Bagaimana kemandirian," ujarnya.
Asnil berharap perlindungan Cisadane menjadi agenda jangka panjang melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pihak industri. Sebab, kerusakan sungai tidak hanya mengancam keseimbangan ekosistem, tetapi juga keberlangsungan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya air tersebut.
Jauh sebelum pembangunan jalan raya dan kawasan perkotaan berkembang, Sungai Cisadane menjadi pusat kehidupan masyarakat Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sungai tersebut berfungsi sebagai jalur transportasi, sumber penghidupan, sekaligus ruang interaksi sosial warga.
Namun, perkembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan turut mengubah hubungan masyarakat dengan sungai. Kawasan yang dahulu menjadi pusat aktivitas kini menghadapi tantangan lingkungan, termasuk persoalan sampah dan limbah.
Penggiat sejarah Serpong Syahrudin alias Mang Iging mengatakan, Cisadane merupakan bagian penting dari perjalanan peradaban masyarakat setempat. Menurutnya, sungai tersebut dahulu menjadi kawasan depan atau pusat aktivitas, jauh sebelum jaringan jalan raya berkembang.