- BBMKG Wilayah II Banten memprediksi awal musim hujan 2026 mundur hingga November akibat fenomena El Nino.
- Wilayah Lebak bagian selatan memasuki musim hujan pada November, sedangkan wilayah utara menyusul pada Desember 2026.
- Mundurnya musim hujan berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, kesehatan, serta potensi bencana tanah longsor.
SuaraBanten.id - Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Banten memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di Provinsi Banten akan mundur hingga tiga dasarian dari kondisi normal.
Sebagian besar wilayah Banten diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara wilayah bagian utara diprediksi baru mengalami awal musim hujan pada Desember 2026.
Plt Kepala BBMKG Wilayah II Banten Ana Oktavia mengatakan, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027.
"Karena ada fenomena El Nino yang mengakibatkan intensitas hujannya itu tertarik. Jadi tertarik ke wilayah Samudra Pasifik, sehingga musim hujan kita mundur daripada normalnya," kata Ana kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga:Banten Targetkan Bangun 18 SMA/SMK Baru hingga 2029
Menurutnya, wilayah Banten bagian selatan, khususnya Kabupaten Lebak, diperkirakan menjadi daerah yang lebih dahulu memasuki musim hujan pada November 2026. Sedangkan wilayah Banten bagian utara diprediksi menyusul pada Desember 2026.
"Musim hujan itu baru akan mulai di November, itu pun dari wilayah bagian selatan, di Lebak. Dan di utara itu musim hujan di Desember 2026," ujarnya.
"Artinya bahwa periode musim kemarau menjadi lebih panjang daripada biasanya, dan musim hujan itu mundur dari normalnya," sambung Ana.
Ana mengingatkan, mundurnya musim hujan dapat berdampak terhadap sejumlah sektor, terutama ketersediaan air bersih dan pertanian.
Durasi musim hujan yang lebih pendek berpotensi mengurangi cadangan air di dalam tanah maupun volume waduk yang dibutuhkan untuk berbagai keperluan, termasuk pertanian.
Baca Juga:Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu
"Dampaknya ini untuk berbagai sektor. Pertama ketersediaan air bersih karena durasi hujannya singkat sehingga cadangan air di tanah berkurang, dan waduk juga berkurang," jelasnya.
Selain itu, sektor pertanian perlu melakukan penyesuaian pola tanam dengan mempertimbangkan waktu awal musim hujan.
Sementara dari sisi kesehatan, kemarau yang lebih panjang dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Kedua ke sektor pertanian, harus ada penyesuaian pola tanam mengikuti awal musim hujan. Kemudian ke kesehatan, seperti ISPA karena turunnya kualitas udara, ini perlu diantisipasi juga oleh masyarakat," ungkapnya.
Di sisi lain, Ana mengingatkan adanya potensi bencana hidrometeorologi, khususnya longsor, ketika hujan mulai turun setelah periode kemarau yang panjang.
Ia meminta pemerintah daerah melakukan pemetaan dan survei terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi longsor sebagai langkah mitigasi.