Bukan Debu Biasa, Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bisa Picu Peradangan Paru hingga Sesak Napas

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berbahaya bagi pernapasan karena mengandung mineral dan logam. Warga diimbau pakai masker, kurangi aktivitas luar, dan waspadai sesak napas.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 09 September 2026 | 09:02 WIB
Bukan Debu Biasa, Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bisa Picu Peradangan Paru hingga Sesak Napas
Ilustrasi abu vulkanik dan dampaknya pada tubuh. (Suara.com/Syahda)
Baca 10 detik
  • Dokter Virginia Nurya Hikmawati menyatakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memicu peradangan paru di Jabodetabek pada Rabu (9/9/2026).
  • Partikel mineral berbahaya tersebut dapat menyebabkan gejala seperti mata perih, batuk parah, hingga sesak napas.
  • Wali Kota Tangerang Sachrudin mengimbau warga memakai masker dan mengurangi aktivitas luar ruangan tanpa kepanikan.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan.

Selain itu, masyarakat yang baru kembali dari luar rumah juga dianjurkan segera membersihkan diri. Mencuci tangan dan wajah serta menjaga kebersihan tubuh dapat membantu mengurangi partikel abu yang menempel.

“Intinya, kurangi pajanan, kurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama bagi kelompok rentan. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pantau informasi resmi dari pemerintah,” tuturnya.

Warga Tangerang Diminta Tidak Panik

Baca Juga:5 Jurnalis Hilang Kontak di Gunung Anak Krakatau, Pencarian Basarnas Banten Masih Nihil

Wali Kota Tangerang Sachrudin juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul terpantauannya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Jabodetabek hingga Jawa Barat.

Ia meminta warga yang beraktivitas di luar ruangan menggunakan masker dan mengikuti perkembangan informasi serta arahan resmi pemerintah.

Menurut Sachrudin, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing.

“Yang penting kita jaga kesehatan kita,” katanya.

Pemerintah daerah bersama pihak terkait terus mengingatkan masyarakat agar menerapkan langkah pencegahan sederhana untuk mengurangi risiko paparan.

Baca Juga:6 Fakta Hilangnya Speedboat Jurnalis di Selat Sunda

Di tengah kondisi tersebut, kewaspadaan menjadi penting karena abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu sehari-hari. Terlebih bagi masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan, paparan abu dapat memicu kekambuhan.

Masyarakat pun diminta segera mencari pertolongan medis apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gejala yang memburuk, terutama sesak napas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak