- Mahasiswa Untirta Kampus Pakupatan mengeluhkan fasilitas toilet yang masih digunakan secara campur antara laki-laki dan perempuan sejak 2019.
- Seorang mahasiswa berinisial MZ kedapatan merekam dosen perempuan di dalam toilet kampus pada Selasa, 1 April 2026 lalu.
- Pihak mahasiswa mendesak universitas segera memisahkan fasilitas toilet demi menjamin keamanan dan mencegah terjadinya insiden pelecehan di kampus.
SuaraBanten.id - Dunia kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Pakupatan, Serang, kini menjadi sorotan atas persoalan mendasar yang terkait dengan fasilitas umum.
Seorang alumni Untirta lulusan tahun 2024, Audi (24), mengungkapkan kondisi toilet di kampus A yang berlokasi di Pakupatan, Kota Serang, Banten, masih kerap digunakan secara campur antara laki-laki dan perempuan.
Kondisi ini, menurut Audi, sudah berlangsung lama dan tanpa ada upaya pemisahan yang jelas antara toilet perempuan dan laki-laki. Akibatnya, ia dan banyak mahasiswa lain merasa kebingungan saat hendak menggunakan fasilitas tersebut karena khawatir ada lawan jenis di dalamnya.
"Dari saya maba (mahasiswa baru) tahun 2019, memang campur. Saya juga sempat bingung kok campur. Soalnya jadi suka kagok kalau mau ke toilet, kagok karena kita ga tau yang di dalam itu lagi ada perempuan atau laki-laki," ucap Audi, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga:Update Kasus Mahasiswa Intip Dosen: Flash Disk Berisi Video Terlarang Diamankan Polda Banten
Diakui Audi, kondisi toilet yang digunakan secara bebas tanpa ada sekat antara laki-laki dan perempuan sudah menjadi keluhan kolektif para mahasiswa yang berkuliah di Kampus A Untirta.
Oleh karena itu, ia pun berharap kejadian seorang mahasiswa yang kedapatan merekam seorang dosen perempuan saat sedang di toilet menjadi perhatian pihak kampus untuk memisahkan antara toilet perempuan dan laki-laki.
"Beberapa kawan saya juga sempat bingung, dan kayaknya ini tuh jadi keluhan kolektif. Dan semoga setelah kejadian itu (mahasiswa rekam dosen) ini jadi atensi buat perbaikan sehingga ke depan bisa dipisahkan (toilet laki-laki dan perempuan) agar mencegah terjadinya insiden serupa," ungkapnya.
"Diberi plang yang jelas, disekat aja, kalau memang ketersediaan bangunan toiletnya yang minim, ya enggak apa-apa dipisah misal yang laki-laki di atas, yang perempuan di bawah," imbuh Audi.
Hal senada turut disampaikan Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta Muhammad Ridham. Ia meminta agar kasus seorang mahasiswa yang merekam seorang dosen di toilet dapat ditangani secara serius, transparan dan tuntas demi menjamin perlindungan terhadap korban, termasuk memperbaiki fasilitas toilet kampus.
Baca Juga:Maling Menangis, Pemilik Tertawa: Mobil Warga Serang Ini Kembali dalam Kondisi Lebih Glowing
"Fasilitas (toilet) itu perlu dievaluasi karena berpotensi menimbulkan celah terjadinya tindakan seperti ini. Karena kondisi fasilitas toilet di Kampus Pakupatan itu masih digunakan campuran antara laki-laki dan perempuan," kata Ridham.
Sebelumnya, seorang mahasiswa berinisial MZ kedapatan telah melakukan tindak pelecehan karena merekam seorang dosen perempuan saat sedang di dalam toilet kampus pada Selasa (1/4/2026) lalu.
Kontributor : Yandi Sofyan