Selain itu, simpatisan Hizbut Tahrir juga jarang berpakaian muslim tapi mengenakan kemeja berkerah agar tak dicurigai pemerintah kala itu.
“Di Hizbut Tahrir itu dulu jarang aktivis Hizbut Tahrir berpakaian seperti ini, berpakaian ada kerahnya supaya tidak dicurigai pemerintah dalam rangka menyelamatkan gerakannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, sang mantan aktivis HTI kemudian menilai bahwa Hizbut Tahrir akhirnya bisa berhasil menjadi ormas besar di Indonesia.
“Akhirnya berhasil besar di Indonesia. Indonesia termasuk negara paling terakhir melarang keberadaan ormas itu,” ungkapnya.
Baca Juga:Sambut HUT RI, Warga di Lampung Selatan Malah Kibarkan Bendera HTI di Rumahnya
Ia pun lantas membeberkan bagaimana cara HTI bisa masuk ke Indonesia dan merekrut banyak simpatisan mereka.
Menurut mantan aktivis HTI itu, Hizbut Tahrir banyak merekrut siswa dari sekolah-sekolah favorit maupun mahasiswa dari kampus top di Indonesia.
“Bagaimana mereka masuk? Jadi mereka masuk itu ke beberapa sekolah yang favorit, kampus-kampus favorit, bukan kampus seperti swasta, termasuk ke sekolah itu mereka masuk ke LDK Rohis (organisasi keagamaan sekolah, red),” bebernya.
Lewat sekolah favorit itulah, kata sang mantan aktivis HTI tersebut, Hizbut Tahrir merekrut siswa yang pintar secara akademik namun ilmu agamanya nihil.
“Nah, di situlah yang dipilih anak-anak yang pintar. Pintar secara akademik, IQ bagus, tapi ilmu agamanya nol,” ujarnya.