Dirinya memiliki pengalaman yang menjadi titik balik dan alasannya semakin mantap menjadi relawan di sejumlah tempat agama lain terutama saat hari-hari besar.
Itu dia alami pada 2001, saat itu dia mengalami sakit tipus dan tak ada keluarga yang membantu.
"Waktu itu saya masuk ke rumah sakit yang bawa saya teman-teman ini dari yang beragama Kristen Katolik, Protestan, Buddha dan lainnya. Sementara saat saat itu istri saya sedang tidak ada. Di situ saya memaknai bahwa, kehidupan indah kalau punya banyak teman. Di rumah enggak ada orang, mereka yang bopong saya semua," paparnya.
Dengan menjadi relawan di vihara dan tempat ibadah lainnya, Tupan ingin membagikan makna bagi masyarakat bahwa, suatu perbuatan baik itu tidak ada yang sia-sia.
Baca Juga:Imbas Covid-19, Permintaan Lampion Imlek Menurun
"Indah bener. Dari mereka belum punya anak, sampai sekarang masih berteman. Saya merasakan hasil dari perbuatan saya selama ini bersama teman-teman. Allah memberikan hadiah kepada saya berupa beasiswa pendidikan anak saya sampai tamat. Perbuatan baik itu tidak balas sama orang yang sama. Saya ingin bersatu, dengan siapa pun berbuat baik," katanya sambil tersenyum mengingat kebaikan yang dirasakan.
Baginya, menjadi relawan dalam peringatan hari besar agama lain merupakan bentuk penghormatan terhadap sesama umat beragama.
"Saya bantu, ikhlas aja. Berbagi aja, berbuat baik ke orang yang agamanya lain, itu bentuk ibadah saya. Hormatilah umat yang lain. Ini salah satu bentuk cara saya menghormati agama lain. Dimana saua berpijak, di situlah berteman baik," tutupnya.
Kontributor : Wivy Hikmatullah
Baca Juga:Antisipasi Kerumunan, Bupati Landak Larang Perayaan Imlek