- Pemprov Banten berencana mengirim hingga 600 siswa ke barak TNI pada November 2026 untuk pembinaan karakter.
- Kepala Dindikbud Banten menyatakan program beranggaran Rp300 ribu per siswa ini bertujuan melatih kepemimpinan serta kemandirian.
- JPPI dan P2G mengkritik program tersebut karena pendekatan militer dinilai tidak menyelesaikan akar persoalan siswa.
Ia juga meminta sekolah memperkuat layanan konseling, menerapkan pendekatan restoratif, serta menyediakan kegiatan positif melalui olahraga, seni, literasi, dan ekstrakurikuler.
“TNI memiliki fungsi pokok dalam pertahanan negara, bukan sebagai tenaga pendidik atau konselor anak. Batas tegasnya adalah militer tidak boleh masuk ke wilayah tata kelola pembinaan kesiswaan atau ranah pedagogis sekolah,” tegasnya.
Ubaid bahkan mendesak Dindikbud Banten membatalkan program tersebut dan mengembalikan penanganan siswa pada prinsip pendidikan serta perlindungan anak.
Kritik serupa disampaikan Pengurus Perhimpunan Pendidikan dan Guru, Iman Zaenatul Haeri. Ia mempertanyakan efektivitas pembinaan bergaya militer dalam mengubah perilaku siswa secara berkelanjutan.
Menurut Iman, perubahan perilaku selama siswa berada di barak berpotensi hanya muncul karena rasa takut terhadap tekanan dan aturan. Kondisi tersebut belum tentu bertahan ketika siswa kembali ke lingkungan keluarga dan sekolah.
“Ini adalah pendekatan rasa takut ya bukan pemulihan,” kata Iman.
Ia menilai, disiplin positif seharusnya mengajak anak memahami alasan di balik aturan, konsekuensi tindakannya, serta tanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan.
Iman juga menekankan pentingnya asesmen terhadap kondisi psikologis, sosial, dan budaya siswa sebelum pemerintah menentukan bentuk pembinaan.
“Jadi yang seharusnya dilakukan adalah asesment kenapa mereka melakukan itu dalam konteks sosial, kebudayaan, relasi anak-anak tersebut dengan geng lokal dan lain seterusnya,” ujarnya.
Baca Juga: Mengabdi Tanpa Henti, Kisah Guru MDA di Lebak yang Tetap Tersenyum Meski Digaji Rp150 Ribu per Bulan
Berita Terkait
-
Mengabdi Tanpa Henti, Kisah Guru MDA di Lebak yang Tetap Tersenyum Meski Digaji Rp150 Ribu per Bulan
-
Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan
-
Kakorlantas dan Astamaops Polri Cek 3 Pelabuhan di Cilegon, Pastikan Kesiapan Pengamanan Nataru
-
Kabur Saat Didatangi Petugas, Sepasang Sejoli Nabrak Polisi di Tol Rangkasbitung Ditangkap
-
Lebih dari 90 SPPG di Banten Kena Suspend, Ternyata Ini Penyebabnya
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Kolaborasi Lintas Sektor: Pemkot Tangsel Gandeng Kampus dan Swasta Sukseskan Porprov Banten 2026
-
Mengabdi Tanpa Henti, Kisah Guru MDA di Lebak yang Tetap Tersenyum Meski Digaji Rp150 Ribu per Bulan
-
Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan
-
Kakorlantas dan Astamaops Polri Cek 3 Pelabuhan di Cilegon, Pastikan Kesiapan Pengamanan Nataru
-
Kabur Saat Didatangi Petugas, Sepasang Sejoli Nabrak Polisi di Tol Rangkasbitung Ditangkap