Andi Ahmad S
Senin, 19 Oktober 2026 | 16:05 WIB
Para korban dugaan keracunan makanan progranm makan bergizi gratis sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. [ANTARA/Kutnadi]
Baca 10 detik
  • Labkesda Sumut menemukan tiga bakteri penyebab keracunan massal siswa di Karo pada September lalu.
  • BPOM menarik susu formula Nestlé dan Danone akibat potensi kontaminasi toksin Bacillus cereus pada Januari 2026.
  • Tan Shot Yen menekankan pentingnya pengawasan keamanan pangan di seluruh rantai produksi untuk mencegah toksin tahan panas.

SuaraBanten.id - Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara menemukan tiga jenis bakteri, yakni Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Escherichia coli, dalam sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan massal terhadap ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, pada September lalu.

Dokter sekaligus pendidik gizi Tan Shot Yen menilai temuan tiga bakteri sekaligus itu sebagai bentuk “pengabaian yang amat keterlaluan”.

Menurut Tan, persoalan keamanan pangan tidak selalu selesai dengan memasak makanan hingga matang. Dalam kondisi tertentu, bakteri dapat menghasilkan toksin yang tetap bertahan meskipun bakteri penghasilnya telah mati akibat pemanasan.

Risiko ini meningkat ketika makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri dan pembentukan toksin.

“Pada proses pemasakan bakteri bisa saja mati, tapi toksinnya tahan panas. Berlaku bagi semua kontaminan,” kata Tan, diterima SuaraBanten dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).

Salah satu contoh yang perlu diwaspadai adalah Bacillus cereus, bakteri pembentuk spora yang kerap dikaitkan dengan kontaminasi nasi dan makanan berbahan beras.


“Bakteri pembentuk spora yang sering mencemari beras dan nasi. Sporanya tahan panas, sehingga tidak mati saat nasi dimasak, terutama pada nasi yang disimpan pada suhu ruang,” ujar Tan.

Bakteri ini dapat menghasilkan toksin cereulide yang memicu mual dan muntah. Gejala keracunan akibat toksin tersebut dapat muncul sekitar 30 menit hingga enam jam setelah makanan dikonsumsi. Karena itu, penanganan nasi setelah dimasak menjadi bagian penting dalam pencegahan keracunan pangan.

Ditanya mengenai tahapan yang paling berisiko dalam penyediaan makanan MBG, Tan tidak menunjuk satu titik tertentu.

Baca Juga: Teka-teki Ledakan Pasar Cimanggis Terkuak, Ruko Ternyata Tempat Suplai Buah MBG

Menurut dia, bahaya dapat muncul sepanjang rantai pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pemasakan, pemorsian, hingga makanan dikonsumsi.

“Mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemasakan, pemorsian, hingga saat dimakan. Itu titik krusial,” ujarnya.

Untuk dapur yang memproduksi ribuan porsi setiap hari, Tan menekankan pentingnya penerapan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), yaitu sistem untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengendalikan bahaya keamanan pangan pada titik-titik kritis dalam proses produksi.

Tan juga menanggapi kabar mengenai seorang siswi di Karo yang disebut “hilang ingatan” setelah mengalami keracunan. Ia menjelaskan bahwa gangguan fungsi otak atau ensefalopati dapat menyebabkan perubahan kesadaran, kebingungan, dan gangguan kognitif.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat disebut amnesia atau kehilangan ingatan.

“Ensefalopati bukan hilang ingatan seperti amnesia,” katanya.

Load More