Andi Ahmad S
Senin, 19 Oktober 2026 | 16:05 WIB
Para korban dugaan keracunan makanan progranm makan bergizi gratis sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. [ANTARA/Kutnadi]
Baca 10 detik
  • Labkesda Sumut menemukan tiga bakteri penyebab keracunan massal siswa di Karo pada September lalu.
  • BPOM menarik susu formula Nestlé dan Danone akibat potensi kontaminasi toksin Bacillus cereus pada Januari 2026.
  • Tan Shot Yen menekankan pentingnya pengawasan keamanan pangan di seluruh rantai produksi untuk mencegah toksin tahan panas.

Adapun mengenai kelompok yang paling rentan mengalami keracunan, Tan mengingatkan bahwa tidak ada kelompok yang sepenuhnya bebas dari risiko.

Tingkat keparahan dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis dan jumlah toksin yang tertelan serta kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya.

Risiko kontaminasi bakteri dan toksin tidak hanya menjadi persoalan dapur penyedia makanan dalam jumlah besar. Rantai produksi industri susu formula juga dapat menghadapi ancaman serupa, bahkan ketika produk dibuat di fasilitas dengan standar pengolahan yang tinggi.

Pada 14 Januari 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan penarikan dua bets susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 produksi Nestlé di Swiss karena potensi keberadaan toksin cereulide.

Toksin tersebut dikaitkan dengan bakteri Bacillus cereus dan diduga berasal dari bahan baku minyak ARA (arachidonic acid), yakni asam lemak yang digunakan dalam formulasi produk.

BPOM menyatakan bahwa hasil pengujian yang dilakukan tidak mendeteksi toksin tersebut. Meski demikian, penarikan produk tetap dilakukan sebagai langkah kehati-hatian untuk melindungi konsumen.

Sembilan hari kemudian, otoritas keamanan pangan Irlandia mengumumkan penarikan sejumlah bets produk susu formula Aptamil dan Cow & Gate milik Danone.

Penarikan itu juga dikaitkan dengan potensi kontaminasi pada bahan baku ARA dari pemasok di Cina. Langkah penarikan produk oleh kedua produsen tersebut dilaporkan menjangkau hampir 70 negara.

Bagaimana kontaminasi dapat terjadi dalam rantai produksi industri? Tan menilai persoalan itu menunjukkan bahwa susu bubuk tidak dapat dianggap steril.

Baca Juga: Teka-teki Ledakan Pasar Cimanggis Terkuak, Ruko Ternyata Tempat Suplai Buah MBG

“Pasti ada kontaminasi. Susu bubuk bukan produk steril,” katanya.

Namun, keberadaan bakteri dan terbentuknya toksin merupakan dua persoalan yang perlu dibedakan. Dalam kasus Bacillus cereus, toksin cereulide yang telah terbentuk relatif tahan terhadap panas.

Karena itu, pemanasan pada tahap pengolahan berikutnya tidak dapat diandalkan untuk menghilangkan toksin tersebut. Pencegahan kontaminasi dan pengendalian bahan baku menjadi bagian penting dalam menjamin keamanan produk.

Kasus dugaan keracunan makanan dalam program MBG dan penarikan susu formula memperlihatkan pentingnya pengawasan keamanan pangan di sepanjang rantai produksi.

Meski konteks dan mekanisme kedua kasus tidak sepenuhnya sama, keduanya menegaskan bahwa pengendalian tidak boleh hanya mengandalkan proses pemasakan atau pengolahan akhir.

Bagi pemerintah, Tan menekankan perlunya pengawasan yang konsisten. “Kontrol. Monitoring dan supervisi pihak terkait,” ujarnya.

Load More