Andi Ahmad S
Jum'at, 25 September 2026 | 11:48 WIB
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kemenperin Merrijantij Punguan Pintaria [Wivy Hikmatullah]
Baca 10 detik
  • Kemenperin menyatakan pertumbuhan industri makanan dan minuman meningkatkan potensi penggunaan kemasan aseptik kertas karton mencapai sembilan miliar per tahun.
  • Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan penerapan Extended Producer Responsibility bagi produsen makanan dan minuman memerlukan penguatan pengawasan serta kolaborasi multipihak.
  • PT Lami Packaging Indonesia melaksanakan program percontohan pengumpulan kemasan aseptik di Serpong pada Kamis, 24 September 2026.

Program tersebut menjadi upaya LamiPak untuk memahami proses pengumpulan kemasan aseptik kertas karton setelah dikonsumsi, sekaligus melihat berbagai kebutuhan yang muncul di lapangan.

Direktur PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li mengatakan, pengumpulan material merupakan bagian awal dari rangkaian pengelolaan yang masih membutuhkan tahapan lanjutan.

"Melalui UBC Collection Program, kami mendapatkan pembelajaran mengenai proses collection dan kebutuhan yang muncul di lapangan," katanya.

Selain UBC Collection Program, LamiPak juga menjalankan Program Pengelolaan Sampah Kemasan Aseptik Kertas Karton di Kabupaten Serang yang melibatkan 20 sekolah di Kecamatan Cikande.

Menurut Hongbiao, pengalaman dari berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah kemasan membutuhkan keterhubungan antartahapan, mulai dari pengumpulan hingga pengolahan dan pemanfaatan kembali material.

Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan tata kelola, sementara industri dan brand owner dapat mendukung pengembangan sistem pengelolaan pascakonsumsi.

Di sisi lain, collection partner, recycler, offtaker, dan masyarakat turut berperan dalam memastikan material dapat bergerak dari sumber hingga proses pengolahan.

"Dari sisi industri, kami melihat bahwa pengelolaan kemasan pascakonsumsi merupakan bagian yang perlu dibangun bersama karena prosesnya melibatkan berbagai tahapan dan pihak," bebernya.

"Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, pelaku EPR, collection partner, recycler, dan masyarakat menjadi penting untuk membangun sistem yang dapat berjalan secara berkelanjutan," pungkas Hongbiao.

Baca Juga: World Cleanup Day 2026, JHL Group Gandeng Banksasuci Bersihkan Sampah di Sungai Cisadane

Kontributor : Wivy Hikmatullah

Load More