Andi Ahmad S
Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:57 WIB
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]
Baca 10 detik
  • KLH mengerahkan drone thermal di TPA Jatiwaringin, Tangerang, guna memetakan titik api tersembunyi sejak Sabtu, 4 Juli 2026.
  • Teknologi drone digunakan untuk mempercepat pemadaman api bawah permukaan sampah sekaligus menjaga keselamatan petugas di lapangan.
  • Tim gabungan mengombinasikan metode suntik air dan water bombing helikopter untuk mengendalikan 40 persen area kebakaran tersebut.

SuaraBanten.id - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mengambil langkah inovatif dalam menangani kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang.

Pemerintah resmi berencana mengerahkan teknologi Drone Thermal guna memetakan sebaran titik api yang berada di lapisan bawah gunungan sampah.

Langkah ini diambil guna mempercepat proses pemadaman yang telah berlangsung sejak Selasa (30/6/2026), sekaligus menjaga keselamatan petugas pemadam kebakaran di lapangan.

Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa tantangan utama kebakaran TPA adalah "api dalam sekam" yang tidak terlihat secara visual dari permukaan.

Penggunaan kamera pemindai panas (thermal) pada pesawat nirawak (drone) dinilai sebagai solusi paling efektif.

"Kami sudah meminta tim Gakkum untuk segera berkoordinasi dengan otoritas bandara dan TNI AU. Tujuannya agar pemantauan dan analisa melalui drone thermal dapat dilakukan secara berkala tanpa mengganggu jalur penerbangan," ujar Wamen Diaz usai meninjau lokasi di TPA Jatiwaringin, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, hal itu terobosan dalam mengatasi kebakaran di TPA Jatiwaringin yang sudah berlangsung selama lima hari, dimana penanganan kebakaran dilakukan tim gabungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), KLH, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) hingga pemda.

Terdapat titik-titik api yang sulit terdeteksi karena keberadaan api dari gas metan berada di bawah tumpukan gunungan sampah yang cukup dalam.

"Jadi ada beberapa tantangan tadi yang kita bicarakan dan kita dorong untuk penyelesaiannya melalui skema ini," kata Wamen Diaz.

Baca Juga: Warga Tangsel Menjerit! Proyek Galian di Pondok Aren Mangkrak Seminggu, Puing Tutup Akses Jalan

Untuk mendukung pelacakan titik api, pihaknya tengah berkoordinasi dengan bandara dan TNI AU sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengeluarkan izin terbang drone, agar proses pemadaman melalui jalur udara yang dilakukan helikopter water bombing air tidak terganggu.

"Tetapi ini karena daerahnya banyak helikopter yang lewat dan juga dekat dengan bandara, sehingga pemantauan hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu," ujarnya.

Menurut dia, karakteristik kebakaran TPA Jatiwaringin mirip kebakaran lahan gambut. Di atas terlihat sudah padam, tetapi bagian bawah masih ada api. "Jadi kapan saja bisa terus kebakaran, dan karena ada CH-4, bisa ada potensi ledakan," ungkap Wamen Diaz.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penerapan metode inject atau menyuntikkan air secara langsung ke dalam titik api di bawah permukaan area kebakaran TPA Jatiwaringin,

Menurutnya, penerapan metode inject dinilai efektif dalam percepatan penanganan kebakaran di TPA teraebut.

"Tetapi yang tidak kalah penting, yaitu apa yang dilakukan oleh Manggala Agni. Kami berterima kasih juga dengan Kementerian Kehutanan yang telah membantu kami dalam memadamkan api ini," tuturnya.

Load More