Andi Ahmad S
Minggu, 06 September 2026 | 15:56 WIB
Foto udara Gunung Anak Krakatau, Sabtu (5/9/2026) petang. ANTARA/HO Badan Geologi
Baca 10 detik
  • PVMBG Badan Geologi melaporkan Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak 4 hingga 6 September 2026.
  • Kepala PVMBG Siti Sumilah menyatakan status gunung api tersebut bertahan pada Level III Siaga setelah erupsi berhenti.
  • Masyarakat dilarang mendekati area dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api tersebut.

SuaraBanten.id - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dilakukan usai diterjang episode erupsi menerus selama 25 jam.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menyampaikan bahwa meski episode erupsi telah usai, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih bertahan di Level III (Siaga).

Berdasarkan rekaman instrumental, rangkaian gempa erupsi menerus ini terekam sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan baru berhenti pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.

PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap waspada serta tidak mendekati area dalam radius bahaya yang telah ditetapkan.

"Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB," ujar Siti, dilansir dari Antara.

Setelah erupsi menerus tersebut berhenti, PVMBG mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.

Erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai penanda akhir dari episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung.

Selama periode pengamatan 5-6 September 2026, kondisi visual Gunung Anak Krakatau terpantau jelas meskipun sesekali tertutup kabut.

Berdasarkan pengamatan CCTV, kolom erupsi berwarna merah terlihat mendominasi pada malam hari, sementara pada siang hari terlihat kepulan berwarna kehitaman membumbung ke udara.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, Terpantau Antrean Kendaraan Barang di Pelabuhan Merak

Dari sisi pemantauan instrumental, energi aktivitas vulkanik yang diukur melalui rerata amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat mengalami peningkatan pada 5 September 2026, namun menunjukkan tren penurunan pada 6 September 2026.

Data Tiltmeter Stasiun Tanjung masih menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus 2026, sedangkan Stasiun Lava93 mencatat pola yang relatif mendatar atau konstan.

Siti menyampaikan meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih aktif.

Potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, PVMBG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level Siaga.

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Load More