SuaraBanten.id - Presiden Soekarno dalam catatan sejarah pernah dua kali menginjakan kaki di Banten. Pertama kali, Bung Karno datang ke Bayah, Kabupaten Lebak, Banten pada awal 1944 silam.
Kunjungan Ir. Soekarno saat itu untuk pengerahan romusha di Banten Selatan. Kala itu Rhomusa tengah melaksanakan pekerjaan jalur kereta api sepanjang 89 kilometer dari Saketi, Pandeglang hingga tambang batu bara di Bayah, Banten.
Bung Karno menyampaikan pidato dengan berapi-api membakar semangat para romusha untuk membantu Jepang, sebagai Saudara Tua yang tengah menghadapi sekutu.
Kedua kalinya, Bung Karno datang ke Rangkasbitung pada 1957. Dalam kunjungan itu, Bung Karno meninjau irigasi Pamarayan dan orasi di hadapan masyarakat dan pemuda Lebak.
Sejarahwan Bonie Triana menuturkan, perjalanan ke Rangkasbitung menggunakan kereta api uap, menempuh jarak 83 kilometer melewati jalur Serpong dan Parungpanjang.
Selain Rangkas dan Serang, Bung Karno juga pernah mengunjungi Kabupaten Pandeglang. 6 tahun sebelum kunjungan kedua Bung Karno, media massa Belanda sudah gembar-gembor menulis bahwa Presiden Sukarno akan ke Banten melalui jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Merak.
Jumat, 31 Agustus 1951 De Preangerbode (salah satu media belanda) melaporkan rencana kunjungan Bung Karno ke Banten tersebut.
“Presiden Sukarno akan mengunjungi Banten tanggal 3 sampai 5 September, pidato diadakan di Merak, Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, Leuwidamar dan Tangerang,” tulis De Preangerbode.
Rombongan Kepresidenan berangkat Senin pagi dari Istana Merdeka ke Tanjung Priok, kemudian melakukan perjalanan dengan kapal ke Merak. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan mobil melalui Tasikardi dan Banten menuju Serang.
Baca Juga: Maling Motor di Rangkasbitung Lebak Beraksi di Masjid Saat Salat Subuh
“Presiden akan menyampaikan pidato pada rapat massal. Pidato dijadwalkan Selasa pagi di Pandeglang, Rangkasbitung dan Leuwidamar. Setelah Presiden berpidato pada pertemuan kaum muda di Rangkasbitung pagi hari, perjalanan kembali ke Jakarta melalui Balaraja dan Tangerang, tempat terakhir dalam perjalanan ini akan diadakan.”
Rute perjalanan itu tidak pernah terjadi. Sukarno lebih memilih menggunakan kereta api uap melewati jalur Serpong dan Parungpanjang.
Berita Terkait
-
Rano Karno Ajak Generasi Muda Rawat Sejarah dan Hidupkan Nilai Kebudayaan Bangsa
-
Rano Karno: Indonesia Saat Ini Butuh Keberanian Bung Karno
-
Megawati Hadiri Bung Karno Festival 2026, Duduk Berdampingan dengan Pramono Anung
-
Sulap 4 Bandara, InJourney Airports Kejar Standar Layanan Kelas Dunia
-
Kericuhan Warnai Pengosongan Lahan Hotel Sultan
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Langgar 3 Ranah Hukum Sekaligus, Kementerian LH Gugat Produsen Oli Bekas di Tangerang
-
Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
-
Niat Cari Untung Malah Buntung: Air Ciujung Tercemar, Modal Obat Padi Bengkak Dua Kali Lipat
-
Ibu Rumah Tangga Jadi Pengedar, Ambil 3.453 Paket Sabu di Tong Sampah Minimarket Bojonegara
-
Sungai Ciujung Menghitam dan Berbau Menyengat, Warga Serang: Mau Tidur Saja Enggak Nyaman