SuaraBanten.id - Tiga pekerja seks komersil (PSK) yang kerap mangkal di sekitaran Terminal Pakupatan, Kota Serang terjaring razia pekat oleh petugas dari Satpol PP Kota Serang, Kamis (12/11/2020) dini hari.
Ketiga PSK itu kedapatan bersembunyi di sebuah warung di Terminal Pakupatan. Sempat bersikukuh hanya sekedar nongkrong, ketiganya akhirnya mengaku sedang menjajakan diri saat dipancing oleh salah satu petugas akan dibooking.
Kepada petugas, mereka mengaku kerap mangkal di sekitara terminal dengan tarif sekitar Rp 250ribu untuk sekali main. Bahkan, kamar di sebuah warung remang-remang tempat mereka bersembunyi merupakan tempat untuk melayani para lelaki hidung belang.
"Iya Pak, biasa nyari pelanggan. Tarifnya Rp 250ribu, termasuk kamar Rp50 ribu. Main biasa disini, ada kamar. Kalau saya ngekos disini (Kota Serang), asli dari Malingping (Lebak), udah janda Pak," ucap salah satu PSK kepada petugas.
Akibatnya, ketiganya terpaksa diangkut ke mobil petugas untuk dibawa ke Kantor Satpol PP Kota Serang untuk dilakukan pendataan dan diberikan pembinaan.
Kepala Bidang Penegakkan Produk Hukum Daerah (Kabid PPHD) Satpol PP Kota Serang, Tb Hasanudin mengatakan, saat ini pihaknya hanya melakukan pendataan dan pembinaan kepada para PSK yang terjaring razia pekat.
Namun dengan tegas disampaikan, jika ketiga PSK itu kembali terjaring razia Satpol PP, maka tak segan-segan pihaknya akan mengirimnya ke panti sosial yang ada di Pasar Rebo, Jakarta.
"Untuk perempuan yang menjual diri, kita lakukan pemeriksaan dahulu, dan kita berikan pembinaan. Jika nanti kena razia lagi sampai 3 kali, akan kita kirim ke Pasar Rebo (Jakarta)," tegasnya.
Selain mengamankan tiga PSK yang sedang mangkal di Terminal Pakupatan. Petugas Satpol PP juga menyita 134 botol miras dari sejumlah kios penjual jamu dan tempat hiburan malam yang ada di Kota Serang.
Baca Juga: Ada Potensi Kerumunan Saat Habib Rizieq Pulang, Satpol PP Siap Bubarkan?
Sementara, sebanyak 15 pemandu lagu terpaksa dibawa petugas saat merazia sejumlah tempat hiburan malam. Hal itu lantaran para pemandu lagu tersebut kedapatan tidak membawa kartu identitas.
"PL (pemandu lagu) yang tidak membawa KTP kita bawa ke kantor untuk dilakukan pendataan, termasuk PL yang membawa KTP namun berasal dari luar wilayah Provinsi Banten, ada yang dari Bandung dan Jakarta juga soalnya," ungkap Tb Hasanudin.
Kontributor : Sofyan Hadi
Berita Terkait
-
Satpol PP Tak Copot Baliho Hingga Penyambutan HRS Selesai
-
Ogah Copot Spanduk Penyambutan Rizieq, Satpol PP DKI Minta Ini ke FPI
-
Satpol PP Tak Mau Ambil Pusing soal Banyaknya Spanduk Habib Rizieq
-
Satpol PP Tak Mau Copot Spanduk Kepulangan Habib Rizieq
-
Ada Potensi Kerumunan Saat Habib Rizieq Pulang, Satpol PP Siap Bubarkan?
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Banten Targetkan Bangun 18 SMA/SMK Baru hingga 2029
-
Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu
-
Pembangunan PSEL di Kota Tangsel Mandek, DLH Ungkap Masih Ada Warga Tolak Pembebasan Lahan
-
Ratusan Ribu Warga Banten Terpapar Influenza A, Dinkes: Penularan Cepat
-
BRI Dekatkan Perbankan ke Pelosok, Ini Contoh BRILink Agen yang Jadi Ujung Tombak di Indragiri Hilir