SuaraBanten.id - Bulan Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Karena banyak sekali hikmah dan keberkahan yang bisa diraih di Bulan Ramadan, bahkan dalam ajaran yang diturunkan dalam nafas kebudayaan Islam. Salah satu seperti tradisi yang dilakukan di Kota Serang, Provinsi Banten, yakni Tradisi Mikraan.
Tradisi Mikraan hingga kini masih banyak ditemui di masjid, seperti di mesjid Baitul Barokah di Lingkungan Griya Baladika, Kelurahan Drangon, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.
Imam Masjid Baitul Barokah Ustaz Ahmad Nugraha mengatakan, Tradisi Mikraan di masjid tersebut diakuinya sudah berlangsung sejak tahun 2004, saat kali pertama mesjid berdiri, hingga saat ini.
"Kalau tadarusan atau mikraan disini (masjid) itu rutinitas di Bulan Puasa. Siapapun boleh, tapi yang paling rutin pengurus mesjid. Kita mulai habis Tarawih dari jam 20.30 sampai jam 23.00," katanya.
Baca Juga: Roadha Mas, Tradisi Ramadan di Maladewa Sambil Membaca Puisi Kuno
Meski wabah Virus Corona saat ini sedang merebak, namun tak mengganggu aktivitas Mikraan di Masjid Baitul Barokah. Walau demikian, pihaknya tetap memberlakukan protokoler kesehatan bagi siapa saja yang melakukan Mikraan di masjid tersebut.
"Enggak terganggu, kan ngga banyak (yang ikut). Paling dilakukan satu-dua orang saja, itu juga bergantian nanti setiap malam. Tetapi tetap yang mau mengaji malam itu, tetap kita minta untuk memakai masker, mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu sebelum wudhu dan memegang mushaf Alquran. Bahkan, kita imbau juga untuk cek suhu badan. Jadi tetap ikuti protokol kesehatan, biar kita tetap bisa menjaga tradisi ini," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Ponpes Salafiyah (MPS) Provinsi Banten KH Matin Syarkowi menjelaskan, kata Mikraan berasal dari kata qoro'a yang artinya tetap membaca atau bahasa lain dari tadarusan secara umum.
"Jadi kalau Mikraan itu hanya di Bulan Ramadan saja dan biasanya dilakukan di masjid. Boleh menggunakan speaker masjid atau enggak. Kalau tadarus itu dilakukan di hari-hari biasa, bisa dilakukan di rumah," katanya.
"Yang jelas Mikraan itu sudah menjadi budaya. Kalau di Serang tidak ada (Mikraan), terasa nggak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain," lanjutnya.
Baca Juga: Melihat Tradisi Ramadan di Masjid Sunan Giri Gresik
Meski telah menjadi tradisi, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti istilah Mikraan muncul kali pertama di masyarakat Banten, khususnya Kota Serang.
Berita Terkait
-
Puasa Sunah Syawal dan Ganti Puasa Ramadan, Mana yang Harus Didahulukan?
-
Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syawal, Ini Niat dan Waktunya
-
Niat Puasa Qada Ramadan dan Puasa Syawal, Mana yang Harus Didahulukan?
-
Lebaran Duluan! Umat Islam di Jember Salat Ied Hari Ini
-
Mudik Lebaran Lancar, 3 Jalur Alternatif dari Semarang ke Jombang Bebas Macet
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
Terkini
-
Libur Lebaran, Pantai Anyer Serang Dipadati Pengunjung
-
Jalur Wisata Pantai Anyer Padat, Polres Cilegon Berlakukan Delay System
-
Antisipasi Kepadatan Libur Lebaran, Jalur Wisata Menuju Pantai Anyer Diterapkan One Way
-
BRI Imbau: Waspada Modus Penipuan Siber Selama Lebaran 2025
-
Sinergi BRI dan Komunitas Lokal dalam Restorasi Ekosistem Laut Gili Matra