SuaraBanten.id - Proyek Jalan Tol Serang-Panimbang yang berada di Pandeglang ditargetkan rampung pada tahun 2021. Namun jelang pelaksanaan pada tahapan tender yang dijadwalkan pada bulan Februari mendatang masih terdapat kendala.
Lantaran proyek dari Kecamatan Bojong hingga Panimbang dengan panjang 24 kilometer itu masih ada ratusan bidang dari enam kepemilikan yang belum rampung dibebaskan. Hingga saat ini, progres pembebasan itu baru mencapai 1.072 bidang atau 71,71 persen dari 1.595 bidang yang mesti dibebaskan. Dari ratusan bidang itu rata-rata tanah negara yang belum lepas asetnya.
Berikut rinciannya, tanah kas desa sebanyak delapan bidang dengan luas 108 hektar, tanah wakaf sebanyak dengan luas 10 bidang 134 hektare, tanah instansi kehutanan 57 bidang dengan luar 343 hektare, Tanah Instansi TNI 178 Bidang dengan luas 2.980 hektare, Tanah Instansi PTPN satu bidang dengan luas 2.600 meter dan Tanah Eks Program Perusahaan inti Rakyat Perkembunan (Pirbun) 37 Bidang 1.400 hektare.
Hal itu terungkap saat rapat koordinasi yang dilakukan Pemkab Pandeglang bersama sejumlah pihak termasuk Badan Pertanahan Negara (BPN) dan Pejabat Pembuatan Komitmen (PPK) Tol Serang-Panimbang III di ruangan Garuda Pendopo Bupati Pandeglang pada Kamis (9/1/2020).
PPK Tol Serang- Panimbang III Ibrahim Hasan mengatakan, selain tidak ada alasan kepemilikan lahan, enam kepemilikan juga menjadi alasan terhambatnya pembebasan lahan tersebut. Pihaknya sedikit kerepotan untuk menyelesaikan pembebasan tersebut karena harus berkoordinasi dengan berbagai pihak.
"Itu juga salah satunya karena memang tanah instansi, repot pelaksanaanya karena harus berkoordinasi dengan banyak pihak. Kalau dengan warga kami cukup bertemu dengan warga, kepala atau camat. Kalau pejabat lain mungkin perlu surat menyurat itu yang bikin lama sih," kata Ibrahim.
Diakui, pasca koordinasi dengan instansi terkait selalu mendapatkan jawaban. Namun karena ada beberapa tahapan yang dikoordinasikan, sehingga sampai saat ini ratusan aset yang didominasi aset negara tak kunjung rampung.
"Jawaban selalu ada (dari instansi tersebut), cuman mungkin perlu beberapa tahap, jadi saat dijawab butuh koordinasi lagi. Akhirnya kami bersurat lagi, birokrasi ya bertingkat-tingkat jadi sampai sekarang enam item (kepemilikan) itu yang belum selesai," jelasnya.
Kepala BPN Pandeglang Agus Sutrisno mengungkapkan, saat ini pembebasan lahan hanya menyisakan sekitar 20 persen lebih atau sekitar 400 bidang masih menghadapi kendala, paling banyak dimiliki oleh TNI. Dari enam kepemilikan itu sangat menghambat percepatan proyek tersebut.
Baca Juga: Penampakan SD Cijolang di Tengah Proyek Tol Cisumdawu
"Kendalanya ada beberapa pemilik tanah, TNI yang paling besar itu ada 180 bidang. Sampai sekarang TNI belum melepaskan asetnya sehingga kami belum bisa melakukan pembayaran, terus ada tanah Pirbun itu juga ada tanah kehutanan, kas desa, tahan wakaf," katanya.
Berdasarkan pertemuan tersebut, kata dia ada terang terkait lahan tersebut, hanya saja menunggu dari TNI untuk melepaskan asetnya. Agus berhasil pembebasan lahan ini segera terselesaikan karena tak lama lagi proyek tersebut akan berlangsung.
"Alhamdulillah hari ini kita hadir disini bisa terselesaikan dari instansi yang hadir disini ada kehutanan, PTPN dan lainnya, Mungkin dari TNI yang belum terselesaikan masih menunggu dari TNI," ujarnya.
Saat pembebasan lahan, BPN kerap mengalami kendala, sebab ada pemilik yang tidak memiliki sertifikat, ada juga yang sertifikatnya hilang. Sedangkan Eks Program Pirbun, kata Agus, tidak bisa menunjukkan sertifikatnya. Padahal sertifikat menjadi dasar pemerintah melakukan ganti rugi.
"Sebagai ada yang bersertifikat, ada yang belum, kalau yang sudah ada sertifikat kita minta sebagai dasar untuk ganti ruginya. Cuman dari Pirbun itu yang tidak bisa menunjukkan sertifikatnya," ujarnya.
"Jadi tadi sudah di cari solusi juga kalau ada yang bilang (sertifikatnya) bisa dilakukan penertiban kembali, tahun ini kita sudah selesai pembebasan tanah ya. Karena secara fisik bulan Juli akan dilakukan kegiatan fisiknya. Jadi kami harus selesai pembebasan tanahnya," imbuhnya.
Tag
Berita Terkait
-
Penampakan SD Cijolang di Tengah Proyek Tol Cisumdawu
-
Belasan Warga yang Tergusur Proyek Tol Cijago Minta Rp 26 Juta Per Meter
-
Rumah Kena Gusur Proyek Tol Becakayu, Menteri PUPR Belum Dapat Bayaran
-
Menteri PUPR Buka Suara Rumahnya Digusur untuk Proyek Tol Becakayu
-
Kajian Pembangunan Jalan Tol Serang-Panimbang Terus Dimatangkan
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Gagal Masuk Negeri? Jangan Cemas, 800 Lebih Sekolah Swasta di Banten Kini Gratis
-
Catat Tanggalnya! SPMB Kota Serang Dibuka 29 Juni, Ada Jalur Swasta Gratis
-
Takut Diamuk Massa, Alasan Sopir Truk Fuso Kabur Usai Tabrak Lari Tokoh Pramuka
-
5 Rekomendasi Sepatu Lokal Harga 200 Ribuan Kualitas Sultan
-
4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya