Tetapi karena letaknya di pedalaman, akhirnya pusat pemerintahan dipindahkan ke Keraton Surosowan, Serang. Dipilihnya Surosowan atau Serang sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Serang, karena lokasi ini sangat strategis bagi komunikasi antara Priangan, Batavia (Jakarta) dan wilayah Pulau Sumatra.
Selain itu, Serang merupakan tempat yang nyaman bagi peristirahatan serta memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi karena memiliki pelabuhan besar Merak, serta kekayaan sumber alam, khususnya bidang industri.
Sementara dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang ditulis oleh BPCB Banten, menyebutkan ada beberapa pendapat tentang asal usul kata Serang. Pendapat pertama Serang berasal dari bahasa Sunda yang artinya sawah.
Berdasarkan catatan sejarah saat itu setelah pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf yang kedua (1570 – 1580) berada di Banten Lama letaknya di Teluk Banten, Serang merupakan wilayah persawahan.
Baca Juga: Daftar Rumah Sakit Layani Rapid Tes Antigen di Kota Tangerang
Sebab saat itu memang Maulana Yusuf gencar mendorong masyarakat untuk membuka lahan baru untuk persawahan. Untuk mendukung kebutuhan air untuk sawah-sawah yang baru di buka, Maulana Yusuf membuat membangun danau buatan yang dinamakan Tasik Ardi.
Air danau Tasik Ardi berasal dari sungai Cibanten melalui saluran khusus ke danau, kemudian airnya dialirkan ke daerah-daerah persawahan di sekitar danau. Program yang digagas Maulana Yusuf terbilang berhasil sehingga Serang menjadi sentra penanaman padi pada masa Kesultanan Banten.
Pendapat lain tentang asal kata “serang” adalah berasal dari bahasa Jawa Banten, yakni “se-erang” yang berarti sekelompok atau seikat. Kata “se-erang” dilatarbelakangi oleh pemukiman awal di kota Serang yang mengelompok.
Satu pemukiman dengan pemukiman lainnya saling mengelompok yang masing-masing terdiri dari puluhan rumah. Awal mula pemukiman di kota Serang adalah Kampung Sayabulu yang terletak di sisi selatan kampung Kaujon, yang dahulu dikenal sebagai pusat pemukiman di Kota Serang.
Sejarah Terbentuknya Pemerintah Kabupaten Serang
Baca Juga: Sejarah Kabupaten Lebak Berdiri, Dulu Berjuluk Jagat Kidul Banten
Dilansir dari situs Pemkab Serang pada waktu Kesultanan Banten di pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa sering terjadi bentrokan dan peperangan dengan para Kompeni Belanda yang pada waktu itu telah berkuasa di Jakarta. Dengan cara Politik Adu Domba (Devide Et Impera) terutama dilakukan antara Sultan Ageng Tirtayasa yang anti Kompeni dengan puteranya Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) yang pro Kompeni Belanda dapat melumpuhkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa.
Berita Terkait
-
Sejarah Banten, Arti Hingga Asal Usul di Baliknya, Cek Selengkapnya di Sini
-
Terjadi Musim Pancaroba Selama Periode Lebaran, Pengelola Wisata Diminta Siapkan Mitigasi Bencana
-
Saraf Kejepit, Wali Kota Serang Tidak Ikut Retret di Magelang
-
Kecewa dengan Putusan MK, PAN Serang Siap Menangkan Ratu-Najib Lagi saat PSU Pilkada
-
Gegara Pagar Laut, Ombudsman Minta PSN Dievaluasi
Tag
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Syok, Bapak 11 Anak dengan Hidup Pas-pasan Tolak KB: Kan Nggak Mesti Begitu
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Review Pabrik Gula: Upgrade KKN di Desa Penari yang Melebihi Ekspektasi
Pilihan
-
Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Yaman, Link Live Streaming dan Prediksi Susunan Pemain
-
Minuman Berkemasan Plastik Berukuran Kurang dari 1 Liter Dilarang Diproduksi di Bali
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
Terkini
-
Pendapatan dari Penyewaan Kuda Saat Libur Lebaran di Pantai Begendur Melonjak
-
Kakek di Serang Hilang Saat Cari Melinjo di Hutan Pabuaran
-
Polisi Wanti-wanti Nahkoda Kapal di Pantai Tanjung Pasir, Jangan Lebihi Kapasitas!
-
Kolaborasi dengan BRI Antarkan Desa Wunut Jadi Desa dengan Pembangunan Berkelanjutan
-
BRI UMKM EXPO(RT) 2025 Sukses Perkenalkan Minyak Telon Lokal, Habbie