Scroll untuk membaca artikel
Rizki Nurmansyah
Rabu, 23 Desember 2020 | 20:15 WIB
Suasana Huntara Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, yang menjadi lokasi para korban tsunami Banten, Rabu (23/12/2020). [Suara.com/Saepulloh]

Pasturi ini memiliki empat orang anak, tiga diantaranya sudah berumah tangga kecuali putra sulungnya yang masih duduk di bangku kuliah. Namun ia masih beruntung sebagian perabotannya dibelikan anak-anaknya.

Umamah harus tetap bertahan tinggal di Huntara kendati kondisinya sangat memprihatikan.

Jika Hunian Tetap (Huntap) belum bisa dibangun oleh pemerintah, dia meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan akses jalan ke Huntara karena kondisinya licin dan becek.

"Banyak keluh kesah selama tinggal di Huntara, terutama masalah jalan mau ke kampung. Kalau pun Huntap-nya belum dibangun tolong lah perbaiki jalannya," pintanya.

Baca Juga: Tsunami Sering Terjadi di Desember? Ini Data BMKG

Nasib yang tidak jauh berbeda juga dialami Durja. Sejak tinggal di Huntara bersama ratusan korban tsunami Banten lainnya, Durja belum memiliki pekerjaan yang tetap hingga kini.

"Saya sebagai nelayan, pas tsunami bagan saya hancur, (perahu) motor juga hancur. Pas pindah ke sini sudah total gak punya kerjaan," terangnya.

Selama tidak bekerja, Durja hanya bisa mengharapkan bantuan dari para donatur. Kadang ia diajak oleh orang lain untuk membuat bagan, itu pun tidak tentu.

"Kadang ada sumbangan dari para donatur yang ada buat sedikit-sedikit menambah kehidupan sehari-hari. Kadang kuli bikin bagan ke orang lain itu pun kalau ada yang nyuruh," ungkapnya.

Suasana Huntara Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, yang menjadi lokasi para korban tsunami Banten, Rabu (23/12/2020). [Suara.com/Saepulloh]

Tak Ada Tempat Tinggal

Baca Juga: Terdampak Bencana, Cadangan Beras di Dinsos Pandeglang Habis

Pria yang menjadi nelayan sejak tahun 1976 itu memiliki tujuh anak. Semuanya sudah memiliki keluarga masing-masing.

Load More