SuaraBanten.id - Keterlibatan Indonesia dalam penelitian vaksin Covid-19 buatan China bukan menandakan Indonesia sebagai kelinci percobaan.
Justru menurut ahli, ada beragam manfaat yang bisa didapat dengan ikutnya Indonesia dalam pengujian vaksin ini.
Dilansir VOA Indonesia, ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan penting bagi Indonesia untuk terlibat dalam uji klinis vaksin Covid-19 buatan luar negeri.
Dia memahami kontroversi di masyarakat belakangan ini, yang menganggap relawan uji klinis vaksin menjadi kelinci percobaan.
Namun, pendapat ini diyakini Ahmad Rusdan, hanya muncul di kalangan masyarakat yang memang selalu mengaitkan berbagai hal sebagai bentuk konspirasi.
"Kalau kita tidak uji klinis di Indonesia, sementara vaksin sudah mau keluar, ini pemerintah malah jadi ragu untuk deploy (mendistribusikan.red) ke masyarakat kita sendiri. Misalnya, Amerika, Eropa dan India sudah memproduksi, pertanyaannya masyarakat Indonesia siap enggak langsung dipakai? Justru itu kelinci percobaan, karena tidak dilibatkan dari awal," terang Ahmad Rusdan.
Peneliti lulusan Harvard Medical School itu juga mengatakan, uji klinis memberi kesempatan para ahli Indonesia mengawasi langsung prosesnya di Tanah Air.
Sinovac selaku produsen hanya menyediakan bahan baku. Jika ada efek samping atau hasilnya tidak bagus, dia meyakini para ahli itu akan secara jujur mengakui.
Jika masyarakat ragu, Ahmad Rusdan menilai sikap itu sama dengan meragukan keahlian para peneliti Indonesia sendiri.
Baca Juga: Vaksin Impor Ditentang, Pakar Kesehatan: Virus Tak Punya Paspor
Hal senada juga diungkapkan oleh profesor Tri Wibawa, ahli Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
Keterlibatan Indonesia dalam penelitian vaksin memungkinkan otoritas pemerintah terkait dapat mengawasi prosesnya, dan menjamin vaksin yang dihasilkan aman dan efektif untuk masyarakat Indonesia.
Ada dua pertimbangan penting dalam memilih produk vaksin. Keterlibatan otoritas Indonesia dalam uji klinis penting untuk memenuhi dua kondisi itu. Pertama adalah keamanan dan efektivitas dalam pemilihan vaksin. Kedua adalah kemudahan akses terhadap vaksin itu, jika sudah terbukti menjadi produk berkualitas baik. Indonesia perlu jaminan dari produsen, terkait akses yang cukup untuk mendapatkan vaksin itu.
"Soal harga, soal kemudahan untuk penyimpanan dan pemberian itu yang belakangan," tegas Tri Wibawa.
Manfaat lain keterlibatan Indonesia dalam proses produksi vaksin adalah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan vaksin membutuhkan waktu yang sangat lama. Ada sejumlah vaksin yang pengembangannya butuh hingga 10 tahun. Bila vaksin Covid-19 bisa dikembangkan dalam waktu dua tahun atau kurang akan menjadi sesuatu yang luar biasa.
Poin lain yang juga patut digaris bawahi adalah pengorbanan para relawan. Menurut Ahmad Rusdan, relawan juga berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Mereka bukan kelinci percobaan.
Berita Terkait
-
Bio Farma Kantongi Izin BPOM, Vaksin Rotavirus Neonatal Siap Diproduksi di RI
-
Mengintip Rumah Sakit Berbasis Stem Cell yang Usung Pengobatan Regeneratif hingga Vaksin Kanker
-
BUMN Farmasi Kirim 3.000 Dosis Vaksin untuk Korban Gempa NTT
-
Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Beri Vaksin HPV untuk Anak Laki-Laki Mulai Agustus
-
Kolaborasi dengan China, Menkes Ungkap Ada Peluang Indonesia Produksi Vaksin DBD Berbasis mRNA
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil
-
5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Akses Keuangan bagi 33,8 Juta Debitur
-
Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan
-
Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda
-
Dampak El Nino Berlanjut Hingga 2027, Kekeringan Parah Ancam Seluruh Kecamatan di Tangsel