SuaraBanten.id - Beredar informasi jika Pondok Pesantren Sabil Urrosyad yang terletak di Kecamatan Padarincang kerap terjadi tindakan asusila yang dilakukan oleh pimpinan Ponpes terhadap para santri perempuannya ternyata telah diketahui oleh sejumlah warga setempat sejak lama.
Namun dikarenakan saat itu tidak ada satu pun pihak yang menjadi korban berani melapor, sehingga persoalan itu selalu selesai melalui jalan musyawarah.
Hal itu diungkapkan salah seorang warga setempat, Dayat saat dimintai keterangan terkait keberadaan Ponpes Sabil Urrosyad yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya.
"Dulu juga pernah kejadian (tindak asusila), tapi korban ga berani lapor. Selesai gitu aja. Bahkan beberapa korbannya itu dinikahin sama si pelaku," ucapnya, Selasa (28/7/2020) malam.
Ia menuding, dari keempat istri terduga pelaku berinisial MJ tersebut. Dua diantaranya merupakan korban pencabulan yang tidak berani melapor dan memilih untuk menempuh jalan damai dengan cara dinikahi.
"Itu dulu pernah juga ada kasus gitu, tapi musyawarah aja. Korbannya dinikahi gitu. Dia itu kan punya istri empat, terus dicerai dua. Itu yang dua itu ya korban-korbannya itu. Seringan gitu, makanya nikah lagi nikah lagi, tapi nanti dicerai," tuturnya.
Diakui, jika keadaan Ponpes Sabil Urrosyad cenderung tertutup dan para santrinya pun tidak berbaur dengan masyarakat sekitar. Bahkan MJ yang menjadi pimpinan Ponpes pun dianggap sosok yang sombong.
"Pada sombong, ga bersosialisasi gitu dengan masyarakat. Itu si pelaku aja kalau ke mesjid pas shalat jumat ga pernah ngobrol sama masyarakat. Beres shalat pokoknya langsung pulang aja. Sombong orangnya," ungkapnya.
Bukan hanya itu, keberadaan Ponpes Sabil Urrosyad pun dianggapnya sudah meresahkan masyarakat. Itu karena beberapa kali sempat terjadi tindakan-tindakan yang membuat kaget masyarakat dengan ulah yang dilakukan oleh para santrinya.
Baca Juga: Detik-detik Massa Rusak Ponpes yang Jadi Tempat Pencabulan Santri
Meski sering diingatkan oleh tokoh masyarakat setempat, nampaknya hal itu tidak pernah dihiraukan oleh pimpinan Pondok Pesantren yang memiliki lebih dari 100 santri tersebut.
"Pokoknya emang sudah meresahkan sih. Sering tuh malam-malam ada keributan gitu. Santri perempuan yang coba kabur dikejar sama santri laki-lakinya. Kan itu meresahkan," ungkapnya.
Bahkan, papar Dayat, jika dirinya pernah melihat adanya kejanggalan yang terjadi dilingkungan Ponpes Sabil Urrosyad. Dimana santri laki-laki dan perempuan bisa berbaur secara bebas dalam sebuah kobong di waktu yang tidak seharusnya.
"Pernah tuh waktu itu pas saya lewat, saya denger santri laki-laki sama santri perempuan bercanda-bercanda gitu. Dalam satu kobong di jam 12 malam. Kok bisa ya? Itu kan sudah melanggar etika pondok pesantren," terangnya.
Ia pun mengaku kesal dengan ulah MJ yang dianggap sudah mencoreng nama baik Pondok Pesantren dengan ulahnya. Namun, karena tidak memiliki cukup bukti dan belum adanya korban yang berani melapor membuat dirinya hanya bisa menyimpan kekesalan tersebut.
Diketahui, jika Ponpes Sabil Urrosyad mengiming-imingi calon santrinya dengan menggratiskan biaya selama mondok. Sehingga hal itu menurut Dayat, hanya sebagai modus untuk mencari incaran santri perempuan agar bisa mondok di Ponpes Sabil Urrosyad.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Wabup vs Bapperida, Kebijakan TPA Bojong Menteng Serang Terpecah Belah?
-
Satu Tahun Zakiyah-Najib, Fraksi Demokrat Kritik Lambannya OPD dan Sengkarut Sampah di Serang
-
Wali Kota Cilegon: Idul Adha 1447 H Momentum Perkuat Kepedulian Sosial
-
Sapi Kurban Presiden RI Berbobot 1,1 Ton Disalurkan untuk Warga Cilegon
-
Pertahankan Opini WTP, Pemkot Cilegon Catat Peningkatan Tata Kelola Keuangan