Scroll untuk membaca artikel
M Nurhadi
Senin, 04 Januari 2021 | 10:28 WIB
Sarjono saat merapikan terompet yang awalnya akan ia jual pada malam tahun baru, Sabtu (2/1/2021) [Suara.com/Alwan]

Dalam penjualan puluhan ribu terompet itu, lanjutnya, ia bisa mengantongi keuntungan hingga puluhan juta dan mempekerjakan kerabat hingga tetangga-tetangganya.

"Kalau lagi produksi biasanya disini (rumah-Red)  ramai orang, mulai dari saudara, tetangga, hingga teman-teman di kampung saya minta bantu produksi," tuturnya menceritakan kisahnya.

Tahun ini, lanjut Sarjono, terompet bekas berjualan pergantian tahun 2020 lalu juga masih tersisa sebanyak tiga karung. Meski demikian, ia juga tidak berani untuk menjual terompet-terompet buatannya. 

"Biasanya dari tahun ke tahun selalu ada sisa dan dijual pada tahun depannya. Tapi kalau sekarang kami ga berani jual," ujarnya.

Baca Juga: Ngeri! Habis Dipecat, Buruh Pabrik Curi Ekskavator dan Gilas 50 Mobil

Untuk memenuhi kebutuhannya, Sarjono kini memilih membuka usaha warung nasi. Meski demikian, warung nasi miliknya belum begitu ramai dikunjungi pembeli.

"Sekarang saya buka warung nasi kecil-kecilan. Lumayan lah, walaupun belum ramai cukup untuk tambahan sehari-hari," ungkapnya.

Meski denga rasa "takut disalahkan" dan tujuan agar wabah segera pergi, nampaknya tidak semua warga satu suara. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya warga yang justru berkerumun saat malam tahun baru.

Tentu saja ini kian menambah dilema masyarakat yang menunggu momen tahun baru untuk berjualan, namun tidak bisa melakukan hal itu karena larangan pemerintah. Sementara, warga justru dengan mudahnya berkerumun menyambut tahun baru.

Kontributor : Hairul Alwan

Baca Juga: Benarkah Ribuan Jemaah Tanpa Masker Sambut Ustaz Abdul Somad? Ini Faktanya

Load More